SPIRIT, FRESH, AND FUNNY STYLE

RENCANA INDAH

by:sieva az zahra

Paras ayu nan damai itu berubah menjadi sembab di sore ini. Di atas gundukan rerumputan hijau di tepi sungai “Jati” yang biasa di pakai orang untuk memancing. Yah… memang air sungai ini masih terlalu jernih untuk berada di desa kecil di daerah Magetan. Namun keadaan itu sangat berbeda dengan keadaan yang sedang di alami Zahrana. Di tepi sungai ini dia mengeluarkan keluh kesah dan beban yang ada dalam dirinya. “ tuhan…apa yang harus aku perbuat?” ungkapnya lesu. Walaupun tak satu orangpun mendengarnya di sore itu. Tapi ia yakin air sungai, burung gereja yang asyik dengan kicauannya, dan bunga-bunga yang ada disana mampu menghanyutkan beban yang ia ungkapkan. Dia menikmati suasana sore itu seperti yang telah ia lakukan sebelumnya. Karena setiap ada sesuatu yang membuatnya resah, ia selalu mengungkapkannya di tepi sungai Jati.

Zahrana, remaja yang menginjak usia 22 tahun, polos, dan terbiasa mengalami berbagai masalah dalam kehidupannya yang kompleks. Namun senja sore yang semakin membenamkan dirinya kearah barat itu membuat zahrana harus segera pulang ke rumah. Rumah sederhana yang ada di desa Jati Jawa Timur. Rumah yang sudah ada sejak ia lahir yang kini ditempatinya bersama orang tua  dan satu adiknya yang masih duduk di bangku mts kelas satu.

“Assalamualaikum” ucap Zahrana sambil mencium tangan ibunya yang mulai renta. Beliau memang terbiasa menunggui zahrana pulang dari aktifitasnya. “ dari mana ndok?” tanyanya. “dari ngajar TPA buk” jawabnya sambil duduk disamping ibunya. Tak lama ia pun beranjak dari tempat duduknya karena mau pergi ke masjid. “oh ya..Lia sudah balik ke pondok buk?” “sudah ndok tadi di antar bapakmu sambil ke pasar, lha apa belum pamit sama kamu tho?” “sudah kog buk, tadi malam. Ya sudah kalau begitu Zahra ke masjid dulu ya”.

Adiknya Lia, memang mondok di pesantren salaf tak jauh dari desanya, tapi Zahra menyuruhnya untuk tinggal di dalam pesantren biar ilmu yang di dapatnya juga maksimal. Maklum, dulu Zahrana juga pernah mondok disana. Jadi sedikit banyak ia telah makan garam pengalaman tinggal di pesantren dan yakin kalau adiknya mampu. Dan sekarang dia sudah menjadi salah satu mahasiswi IAIRJ (Institut Agama Islam Roudotul Janah) semester 6 jurusan tarbiyah.

Setelah sholat isya, Zahrana mempunyai kebiasaan berkumpul bersama orang tuanya. Dan malam itu, ia telah mendapati bapak dan ibunya tengah duduk di ruang tamu yang berisi 4 buah kursi dari rotan dan 1 meja ukir kecil dari kayu jati buatan bapaknya. “duduk sini dulu ndok” pak Misdi ayahnya memulai pembicaraan. “nggeh pak..” sahutnya. Malam ini, Zahra merasakan suasanya yang agak berbeda dari biasanya. Ia pun memberanikan diri bertanya pada bapak yang di hormatinya itu. “ada apa nggeh pak, kog sepertinya ada yang mau dibicarakan sama zahra?” Zahra memandangi wajah bapak dan ibunya dengan lembut. Zahra sadar, betapa orangtuanya sekarang sudah mulai renta dimakan usia.

“ndak ada apa-apa ndok,bapak sama ibu cuma pengen ngobrol saja sama kamu”.

“bagaimana kuliah kamu ndok, kapan selesainya? Sudah tiga tahun tho kamu kuliah?”

“insya allah pak,buk…ini Zahra sedang kkn dan ppl jadi doanya saja biar semua lancar dan Zahra bisa cepet selesai”.

“amin”

ucap keluarga itu serempak. “ibuk selalu berdoa buat kamu cah ayu, nanti kan kalau kamu sudah selesai bisa cepet nikah juga tho?” celetuk ibunya. “wah ibuk ni bisa aja. Nikah sih gampang, calonnya itu lo buk yang susah” “lha kan temanmu di kampus banyak ndok, masa gak ada yang mau?” pak Misdi menimpali. “wah,wah kog jadi ngomongin nikah, mendingan bapak sama ibuk cepat istirahat saja, ini sudah malam, besok kan semua harus bangun pagi” ia pun mengalihkan pembicaraan.

Jam dinding di kamar Zahra menunjukkan pukul 03.00 pagi. “astagfirullah” ucapnya. Seperti biasanya Zahra pergi ke kamar mandi dan berwudhu untuk melaksanakan sholat malam. Ia ingin menumpahkan keluh kesahnya kepada sang penggenggam jiwa tiap manusia.Allahu rabbi.

Bibir mungil itu terus mengagungkan nama sang khalik lewat alunan doanya yang tiada henti. Dia berdoa agar ia bisa sabar dan menemukan jalan dari tiap permasalahan yang ia hadapi. Tak lupa ia juga berdoa supaya tugas di kuliahnya juga bisa ia kerjakan dengan baik dan lancar, berdoa untuk ayah ibunya yang mulai renta, serta adiknya yang ada di pondok dan terakhir adalah jodoh untuknya. Ia ingin jodoh untuknya nanti adalah surprise baginya. Ia ingin berpacaran setelah menikah seperti pesan ustadzahnya dulu di pondok. “alhamdulillahi robbil alamin” kata terakhir yang terucap dari bibirnya sebagai penutup dari doanya. “masih jam 04.00 pagi” katanya. Dia pun mengambil beberapa buku di rak meja kecilnya yang berada di samping tempat tidur. Tidak ada tugas hari itu, namun ia ingin membaca-baca saja. “rrrrrr” ‘rrrrrrrrrr’ getar handphonenya bergetar. Dia memang selalu menggetarkan HP nya ketika tidur. “jangan lupa nanti ada rapat KKN di tempat biasa” tulisan dalam layar HP nya.

Semngat baru di pagi yang baru menemaninya untuk beraktifitas pagi. Yah…membantu ibunya tercinta di dapur dan bersih-bersih rumahnya.

Di bawah pohon akasia kampus yang rindang. Tempat inilah yang biasa dipakai anak-anak berkumpul. Udara yang masih sejuk dan kicauan buurng turut meramaikan suasana saat itu. Sepertinya burung-burung itu mengerti tentang rapat yang di adakan di bawah pohon itu.ramai.

Pembicaraan demi penbicaraan dilalui hingga sampai suatu mufakat.”ok teman-teman jadi semua sudah jelas kan tempat dan barang apa yang perlu dibawa??” Tanya sang ketua kelompok.” “sipp……!!!” suara serempak dari mereka. Zahrana yang menjadi bendahara pun sepertinya cukup mengerti dengan isyarat anggukannya dan berniat segera pergi karena ia mau mengembalikan buku. “eh Zahra mau kemana?” asti mengiringi lanhkahnya ke perpustakaan.

“oh kamu tho Ti,ni mau ke perpus aja. Mau ikut kamu?” “hehe…gak ah lagi males kesana,lantai tiga capekk….” “ah dasar kamunya aja yang males” “eh Rana,tadi si Mail lihatin kamu terus lo pas rapat!! Selidik asti penasaran. “trus napa?”

“yah…kasih tau aja. Mungkin si Mail naksir kamu zahra?” asti masih terus mengintrogasinya seperti polisi pada terpidana.

“huss ngawur!! kamu aja lah yang naksir, aku belum mikir kesana,kamu kan temen kecil dia. Aku masih males Ti.. neh perlengkapan dan persiapan KKN aja belum lengkap hayoo…”.sebenarnya Zahra tau kalau asti adalah teman SD dan Mts nya Ismail. Jadi Zahrana sedikit banyak juga tahu kalau Asti agak suka dengan Mail. “ya udah kalau gitu met baca zahrana cantik” asti pun nyelonong pergi dari sampingnya. Tak lupa cubitan usil Asti sahabatnya sempat mampir ke lengan zahrana.

“ya allah, astagfirullah” spontan Zahrana kaget dan rona wajahnya memerah. Disana, di pojok ruangan penitipan tas dia melihat seseorang yang sempat mampir di pikiran dan selalu meminta zahrana untuk mencari tau siapa dia. Senang, malu dan berdebar itulah yang dirasa Zahrana setiap melihat sosok itu. Walaupun misterius bagi Zahrana, tapi ia tidak terlalu memikirkannya. Ia selalu yakin Allah pasti akan mempertemukannya ketika nanti ia memang ditakdirkan mengenalnya. Tegap tapi pasti langkah Zahrana menuju lantai tiga perpustakaan. Sepi karena memang sudah hampir tutup. Setelah mengembalikan buku iapun duduk sejenak untuk membaca. Tiba-tiba seseorang duduk di kursi sebelahnya. “deg” zahrana kaget “dia lagi” dalam hatinya resah. “oh tuhan kenapa hamba selalu malu dan bingung ketika dekat dengannya?” beberapa menit telah berlalu, lima, sepuluh, bahkan tiga puluh menit berlalu tanpa ada pembicaraan sepatah katapun diantara mereka. Sibuk membaca lembaran demi lembaran buku masing-masing tanpa tahu ada seseorang yang hatinya gelisah. Zahrana.

Selain memang mereka belum kenal zahrana pun malu untuk bertanya atau mengajak berbicara. Karena sosok itu benar-benar misterius baginya. “tet…tet” bell pun berbunyi. Semua meninggalkan perpustakaan itu tanpa terkecuali.

Senyum kecil itu mengiringi langkah Zahra kembali ke tempat biasa ia mencurahkan ceritanya. Yah.. sungai Jati nan alami.

Hari itu sungai Jati tidak terlalu ramai, masih sepi seperti biasanya. Ia duduk dibawah pohon mangga yang lebat daunnya. Oksigen murni pun bisa ia dapat langsung dari pohon-pohon disana. Sejenak ia mencoba mengingat -ingat kejadian  tadi siang di kampus. Ia mencoba menggali memori tentang sosok pemuda itu. Zahrana ingat sekali ketika pertama melihat pemuda itu. Yah… di suatu acara tanpa sengaja ia melihatnya duduk dengan buku di tangannya. Entah kenapa dari banyak peserta hanya sosok dialah yang dilihatnya. Sopan, berwibawa dan religius. Itulah yang di idamkan Zahrana. Tapi sampai sekarang Zahrana masih dalam tahap suka secara fisik, kepribadian? Entahlah. Nama saja belum ia ketahui, semester, jurusan, baginya masih sangat jauh untuk bisa mengetahui diri pemuda itu. Yang terpenting, apakah pemuda itu menyadari adanya seseorang yang selalu malu ketika bertemu dengannya atau tidak. Biarlah Allah sang penggenggam jiwa yang menjawabnya.

Hari yang ditunggu-tunggu Zahrana pun tiba, yah.. KKN bersama teman-teman untuk memenuhi tugas perkuliahannya. Dia berharap semua akan lancar-lancar saja. Sebuah bus besar milik kampus pun telah ada di tepi jalan dan siap mengantar para mahasiswa.

“Zahra….!!” Suara khas itu memanggilnya. Ismail, dia memang mempunyai suara khas karena mahir Qira’ah di kampus. “iya Mail..ada apa?”. Mail menghampirinya dengan sebuah tas besar di punggungnya. “emm…kamu tadi di antar siapa?” tanyanya. “aku di antar bapak tadi, napa il? memangnya Kamu mau antar aku?” goda zahrana. “wah..kalau kamu ngomong dari kemarin, aku mau banget Ra.. hehe..” “halah ngawur kamu, mau kita di gosipin sekampung?” “gak papa biar kaya artis ya..walaupun bentar” kelakarnya. Mail memang tipe cowok yang suka humor sama seperti Zahrana. Dan tanpa terasa,asyiknya obrolan mereka berdua membuat mereka tidak sadar kalau kursi di bus mereka sudah penuh. Dan menyisakan dua kursi di belakang pas buat mereka. “Zahra, mail..!! cepet masuk!” teriak Asti. “sip” sahut mail. “wah, Allah sepertinya mengabulkan doaku Ra..” Zahrana tak menjawab. Namun segurat senyum hadir di bibirnya.aneh.

“ckiitt…..” bunyi rem bus tua mereka memekik yang memang tidak asing lagi. Ternyata setelah satu jam sampai juga mereka ditempat KKN. “ayo semua turun…!!” ucap Malik sang ketua. Tanpa diberi aba-aba lagi mereka pun turun dengan seksama. Pastinya ada satu orang yang bahagia sekali saat berada di dalam bus. Yah ismail alfauzi.

Senang, sedih canda, tawa hadir di kampung Sukosari tempat mereka beraktifitas. Suatu hari, saat Zahrana pergi untuk mengajar ke MI terdekat tiba-tiba dia digoda oleh anak angkringan daerah sana. Bak pahlawan kesiangan Ismail pun datang untuk menemaninya supaya dia tidak diganggu lagi. Entah apa yang ada di fikiran Zahrana, tapi yang jelas ia senang dengan perlakuan Mail yang selalu baik dan sopan kepadanya selama ini. Hanya saja untuk masalah hati atau perasaan Zahrana lebih memilih untuk tidak memfikirkannya dulu.

Tak terasa banyaknya aktifitas di desa Sukosari membuat para peserta KKN lupa akan waktu bahkan mungkin hari-hari yang telah mereka lalui. Malam ini adalah malam terakhir untuk mahasiswa-mahasiswi IAIRJ ber-KKN disana. Mereka sepakat akan membuat malam perpisahan dengan warga setempat. Maka rapatpun diadakan hari ini di rumah salah seorang warga yang menjadi tempat kost mereka.

“sudah lengkap belum?” Tanya Malik tegas. “belum” jawab Asti yang ternyata diam-diam dia adalah sekretaris dari KKN ini. “lho kamu tho ti sekretarisnya?” Zahra menyelidik padanya. “emm…anu aku kan baik hati makanya gak ngomong-ngomong ke orang-orang.he….” Asti menjawab sambil nyengir ke arah Zahra. “ah..dasar kamu, ni juga namanya sombong”. Begitulah canda yang sering mereka tampilkan. Dua sahabat ini memang mudah akrab karena zahrana dan asti memang sama-sama suka bercanda.

“eh, Ti…btw siapa ini yang belum datang? “cieh…sekarang udah mulai perhatian neh sama si Mail !!” goda asti pada Zahra.

“idih kamu apaan sih, aku kan Cuma Tanya..oh,si Mail tho yang belum datang” bantahnya cuek.

Tak lama kemudian “assalamu’alaikum…………. kawan..” “wa’alaikumsalam” Malik bertanya dengan serius, “dari mana kamu Il..,udah ditunggu-tunggu nih…malah datang dengan wajah tanpa dosa”

“maaf boss…aku tadi lagi ada urusan.

yuk dimulai” ajaknya tanpa ada rasa bersalah. Bak paduan suara yang kompak semuanya pun menyahutnya dengan teriakan “huuu………………”.

Rapat berjalan dengan lancar. Malik akan mengisi sambutan dari ketua panitia. Asti dan lima orang lainnya mempersiapkan properti dan perlengkapan yang lain serta undangan kepada warga, sedang Zahra dan Mail mendapat tugas sebagai MC.

“deg..deg..”irama jantung Zahra tak menentu bagaimana bisa dia menjadi MC bersama Mail, padahal ia tahu kalau selama ini Mail selalu dekat dan baik dengannya. Ia takut kalau dengan seringnya kebersamaan mereka akan tumbuh benih-benih cinta. Karena ia ingat wejangan dari bapaknya kalau “witing trisno jalaran soko kulino”.“ya Allah…jagalah hati hambamu” ucapnya lirih.

Malam hari pun tiba. Tepat jam 08.00 malam panitia berkumpul di balai desa Sokosari diiringi beberapa warga yang mulai berdatangan dan menempati kursi di balai desa itu. Maklum lah selain ini adalah acara perpisahan mereka,acara ini juga menampilkan tari-tarian dan persembahan lain dari murid-murid MI yang telah dilatih sebelumnya oleh panitia.

“plok…plok…plok…” tepuk tangan riuh menyeruak di dalam ruangan yang tak terlalu luas itu namun cukup untuk menampung seratus orang. Ya…Mail baru saja selesai memberi sambutan. Mereka tak sabar melihat anak-anaknya tampil di panggung mini itu. Beberapa pertunjukan pun telah ditampilkan mereka, malam yang semakin larut pun tak bisa melarutkan kemeriahan malam itu. Mereka semua menyatu dalam kehangatan acara yang di kemas apik oleh panitia. “hadirin sekalian..inilah penampilan terakhir dari kami ……”

“Huft akhirnya selesai juga. Capek ya Il…?”

“eh…apa?”

“huh..kamu ngelamun ya…pasti kamu mikirin sesuatu kan?” Ismail masih terdiam, bukan hanya sesuatu tapi lebih urgen lagi yang ada dalam pikiran dan hatinya sekarang. Sebenarnya ini lebih kepada bagaimana nanti Ismail bisa mengungkapkan isi hatinya pada Zahrana, Teman satu kampus yang sudah lama dikaguminya. “emm..Rana, ini buat kamu” walaupun ia malu dan penuh rasa khawatir apakah nanti Zahrana akan marah atau menerimanya yang jelas ia telah memberikan sesuatu yang ia beli tadi siang tak jauh dari desa itu. Singkat tapi pasti ia memberikannya langsung pada zahrana malam itu. Malam perpisahan KKN mereka. “aa..apa ini il?” “bukan apa-apa.tapi aku mau kamu menerimanya”. Tanpa ada kata-kata lagi Ismail pergi meninggalkannya sendiri di samping panggung tempat mereka mengadakan acara. Mungkin Ismail benar. Karena zahrana membutuhkan sedikit waktu untuk memikirkan kejadian singkat tapi membuatnya speechless. Dalam hatinya ia tahu maksud dari Ismail. Mungkin perkataan bapaknya dirasakan zahrana sekarang. Mail suka padanya karena sering bersama dia. Dan itu membuatnya bingung.

Pagi hari keadaan sudah kembali normal. Mereka pun mengadakan acara pamitan bersama warga desa Sukosari di halaman balai desa. Saling mengucapkan terimakasih antara warga dan anggota KKN pun mewarnai suasana pagi itu. Bahkan anak-anak kecil yang masih duduk di SD pun banyak yang tak mau di tinggal oleh mereka saking dekatnya hubungan yang dibina. Ada yang menangis dan ada yang hanya menggandeng erat tangan peserta KKN.   Jam dinding balai desa masih menunjukkan pukul 08.45 pagi. Dan rencananya hari itu bus kampus mereka akan datang pada jam 09.00 pagi. Hari itu ada yang berbeda dari zahrana. Dia terlihat lebih diam dari biasanya. “hayo…sedih ya mau pulang ke rumah?” asti tiba-tiba aja muncul disampingnya. “apa?..nggak kog ini aku lagi lihat teman-teman aja. Sepertinya mereka juga tidak ingin pergi dari sini.” “oh…gitu. Tapi kita masih punya banyak tanggungan di kampus dan tugas lain jadi mau gimana lagi Ra…” begitu lah respon Asti polos tanpa tau apa yang sedang dipikirkan Zahrana sekarang ini. Zahrana masih berfikir apa yang dilakukan Ismail semalam, apa yang ia berikan dan apa maksudnya. Namun ia berfikir mungkin belum saatnya ia bercerita pada sahabatnya Asti. “maaf Ti..” ucapnya lirih bahkan mungkin Asti pun tak mendengarnya.

Perjalanan  menuju kampus terasa hampa bagi Zahrana. Ia tidak merasakan kebahagian seperti yang dirasakan teman-temannya. Namun dalam perjalanan pulang kali ini ia tidak duduk bersama Ismail, ia duduk bersama Asti sahabatnya. Sedang Ismail sendiri duduk di bangku paling depan dekat dengan supir. Entah kenapa ada yang aneh di antara mereka berdua. Zahrana yang sekarang agak pendiam. Dan Mail yang biasanya slenge’an menjadi misterius.

“Zahrana…cantik…bangun yuk kita udah sampai” Asti membangunkan Zahrana yang ternyata tertidur sewaktu perjalanan. “loh, udah sampai ya Ti.. aduh aku kog sampai ketiduran ya..” “mungkin kamu kecape’an” sergahnya . “iya kali…yuk pulang Ti..” ajak Zahra.

Dalam perjalanan pulang ke desa Jati, Zahrana merasa ada wajah familiar yang ia kenal sedang naik motor disampingnya. Ia pun mengintip dari kaca helm nya. “ya allah.. wajah pemuda misterius itu lagi. Ia ingat terakhir bertemu dia di perpustakaan kampus sebelum ia pergi KKN. Hatinya mulai gelisah lagi, puluhan pertanyaan muncul di kepalanya bak gunung yang ingin meletuskan laharnya. Ia sangat ingin tahu siapa pemuda itu. Karena ia tak mau lagi terganggu pikirannya dan tidak tenang hatinya gara-gara seseorang yang belum ia kenal.

Kedatangannya dirumah disambut pelukan hangat sang ibu, walaupun Zahrana sudah besar tapi bagi ibunya ia adalah anak kecil yang masih butuh kasih sayang. “bapak masih kerja ya buk?”

“iya ndok..malah ndak tau kalo kamu pulang sekarang” “ah gak papa bu’e..biarin aja. Zahra mau beres-beres dulu ya buk” ia berlalu ke kamar dengan rasa lelah yang tampak di rona wajahnya.

Satu tujuan kenapa ia langsung menuju kamarnya. Ia ingin membuka kado dari Ismail yang terbungkus rapi dengan kertas kado biru bergambarkan bintang. “sreekk…..srekk…..” dengan pelan ia membuka kado itu “astagfirullah..” nama Zahrana annisa terukir di sebuah batang pohon mini yang terbuat dari kayu. Indah sekali miniatur pohon apel yang sedang berbuah itu. Ia masih bingung dengan maksud pemberian Ismail itu. “plok…” sesuatu jatuh ketika Zahra ingin meletakkannya di atas rak buku. SURAT..ya, surat singkat yang tertulis rapi di lembaran kertas. Segera Zahra membacanya dalam kebingungan dan tanda Tanya.

Assalamu’alaikum wahai zahrana…

Ku rangkai kata demi kata yang muncul dari bimbangnya hati ini. Aku tak tahu apa yang sedang aku rasakan kepadamu. Aku tahu aku telah lancang dengan memberimu sesuatu yang mungkin tak berharga ini buatmu..bahkan aku malu kepadamu.

Pohon itu adalah ibarat dirimu. Selama ini kamu telah tumbuh dalam hatiku, dan aku ingin menjadi akar yang menguatkanmu.

Salam ukhuwah

Ismail al fauzi

Semakin tak menentu hati zahrana dibuatnya ia hanya ingin menenangkan hatinya dulu. Ia ambil buku yang di koleksinya dalam rak buku. Ia buka lembaran demi lembaran tentang cinta dan ia menemukan salah satu tulisan dari ibnul qoyyim al jauziah dalam judul raodlhoh al muhibbin wal nuzhah al musytaqin. Atau dalam bahasa Indonesia adalah “taman orang-orang jatuh cinta dan memendam rindu” disana tertulis ada beberapa cinta yang biasa sekali. Salah satunya cinta yang berawal dari kekaguman. Ia tidak ingin Ismail menyukainya karena kagum dengan dirinya yang menjadi asdos ataupun bisa sedikit ilmu agama karena pernah mondok. Namun ia lupa kalau ia sendiri sekarang juga sedang mengagumi sosok lain yang masih misterius baginya. Ia bingung saat ini. Namun zahrana tak ingin berlarut-larut memikirkannya. Ia segera ambil wudhu dan membaca al-quran untuk menenangkan hatinya yang sedang galau.

“tit…tit…tit…” Hp Zahra menandakan ada signal pesan yang masuk sore ini. “Asti” adalah nama yang muncul di layar HPnya. NANTI MLM NGAJI KAN?? Tulisan dalam pesan singkatnya. INSYAALLAH.. “message sent” ia ingat kalau hari ini adalah hari ahad pahing dimana ia biasa mengaji pada Ustad Imron yang hanya satu bulan sekali. Walaupun ia sendiri baru beberapa kali mengikutinya, Namun ia sudah punya rasa ketertarikan dalam kajian itu. “masih sore” ungkapnya dalam hati. “assalamu’alaikum” suara tak asing di telinga Zahrana. Asti tiba-tiba saja datang dan mengagetkan Zahrana. “huh kamu ini kebiasaan deh datang gak bilang dulu Ti..” “surprise gitu Ra…” celetuknya. mereka pun tertawa kecil namun terlihat anggun bersama. “eh Ra…kamu udah kenal belum sama mahasiswa –mahasiswi baru di kampus kita?” Tanya asti memulai pembicaraan. “hemm..belum semua Ti,ya ada sebagian tapi gak terlalu dekat aja.”

“ooo…..” sahut asti polos. “oya Ra…mungkin aja kamu tertarik melihat-lihat atau apa gitu..neh aku bawa foto-foto anak baru pas ospek kemarin. mungkin kamu butuh anggota baru buat rohis kita”

“kog kamu punya ti?”

“iya neh pinjem si Edi ,kemarin dia kan bagian dekdok Ra..”tak lama asti menyodorkan album kecil yang ia ambil dari tas mungilnya dan di berikan di pangkuan Zahrana. Sedikit melihat ke cover album itu. Zahra tertarik untuk melihat isinya. “srekk..srek..” lembaran demi lembaran ia buka. dan sampailah pada satu wajah yang ia kenal betul. Wajah yang selalu membuatnya gelisah ketika memandang. yah..wajah yang ia beri nama pemuda misterius. Raut muka bahagia dan penasaran yang begitu dalam tak dapat Zahra sembunyikan. Ia senang karena bisa melihatnya lagi, dan mungkin menanyakannya pada Asti sahabatnya.

“eh ti…kamu kenal anak ini gak?”

“yang mana?” Zahra pun menunjuk salah satu mahasiswa laki-laki di foto itu.

“yang ini “ tunjuknya.

Asti pun mulai mengakomodasikan matanya untuk melihat lebih dalam lagi mahasiswa yang ditunjuk oleh Zahra. Zahra berharap Asti bisa  lebih tahu daripada dirinya. “setahuku, dia anak Ushuludin semester satu Ra… namanya sih aku gak tahu, tapi kayaknya dia terlalu tua untuk masuk di semester satu. Mungkin seharusnya dia tuh semester tuju kali Ra…hehehe…”

“huss…sok tahu kamu ti..”

“hayo…kenapa Tanya? kamu suka sama dia ya Ra? tar aku sampein lah… eh…tapi tar si Mail bisa broken hearth donk” celetuknya ngawur.

Tanpa peduli cubitan Zahra yang mendrat di pipi cubby nya. “kebiasaan deh kamu suka jodoh-jodohin orang. Kenapa gak buka biro jodoh aja tante Asti…hehe..” sahutnya tak mau kalah dengan Asti. Sebenarnya Asti juga tidak terlalu nagwur dengan yang dibicarakan tadi. Karena ia tahu kalu pemuda tadi penampilannya sopan, wibawa, dan cool..plus sedikit berjenggot seperti ikhwan dan jelas yang seperti itu tipe Zahrana Annisa banget. Saking asyiknya ngobrol merekapun larut dalam suasana sore nan indah bersama buaian senja di ufuk barat….

“wah kita telat gak Ra..,kog udah pada rame di dalam ruangannya” asti agak meringis ketika tahu dia dan Zahra datang terlambat di pengajian kyai Imron. “udah yuk gak apa,kita masuk aja” ajak Zahra tetap tenang. Setelah bersalam-salaman dengan beberapa ibu-ibu di dalam ruangan, mereka pun duduk berdampingan di deret paling belakang. Tempat kajiannya memang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk lima puluh orang . Di teras juga tersedia terop untuk mereka yang kekurangan tempat.

“Amin…” penutup doa yang terucap di akhir acara pertanda acara telah selesai. “Ti…pulang yuk!!” ajak Zahrana. “yuk” balas asti. Setiba di parkiran yang hanya diterangi oleh lampu 5 watt zahrana bisa merasakan getar itu. Yah getar dalam hati yang selalu menawan senyumnya. Lelaki misteriusnya muncul lagi. dan tanpa sengaja ia pun langsung menepuk pundak asti.. “ti..dia ada disana” Zahrana menunjuk pemuda berjaket hitam sedang mengeluarkan motor dari parkiran. “eh… apa??” Asti spontan kaget. “oo…mau tak panggilkan ga?” goda Asti “gila apa..gak ah..yuk pulang aja udah malam” ajak Zahrana dengan senyum dan rasa semakin penasarannya. bak detective yang sedang memecahkan kasus.

Malam ini Zahra tidak bisa tidur, ia terus memikirkan kenapa di setiap tempat yang tidak pernah ia rencanakan selalu muncul sosok yang membuatnya gelisah. Bahkan ia sempat bertanya pada hati kecilnya apakah ia sedang jatuh cinta pada lelaki itu, tapi apa mungkin pikirnya. Karena ia belum pernah bertegur sapa atau berbicara dengannya. Namanya saja ia tidak tahu..”ya Allah… bagaimana ini, apa yang harus hamba lakukan??” rintihnya malam itu. Ia pun bertekad akan lebih menjaga hatinya agar tidak terlalu kacau ketika bertemu dengan lelaki itu lagi. Karena ia tidak yakin akan bisa mengenalnya.

Saat suasana seperti itu, ia ingat sebuah ungkapan yang pernah ia dengar dari dosennya. Dosennya pernah bertanya, “kenapa seseorang itu suka berteriak ketika sedang marah?” para mahasiswa pun terdiam. Karena dosennya tidak suka basa-basi sang dosen pun menjawab sendiri, “seseorang ketika sedang marah itu hatinya saling berjauhan satu sama lain. (orang yang sedang marahan itu) sehingga mereka perlu suara yang lantang untuk mengatakan apa yang ingin disampaikan. Berbeda dengan orang yang sedang jatuh cinta, walaupun fisik mereka jauh namun hati mereka selalu dekat. Maka dengan suara lembut pun pesan itu akan sampai dengan suara yang lantang dihatinya. Maka tidak ada orang yang sedang jatuh cinta dan ia berteriak dengan pasangannya”.

Kata-kata itu begitu lekat di dinding hatinya.. ia mulai memahami arti getar-getar halus yang ada di hatinya ketika bertemu dengan lelaki itu. Namun ia juga tidak tahu kenapa getar itu tidak muncul saat ia bersama Ismail.

Hari demi hari berganti, bulan demi bulan terlewati. Ia terus memandangi kalender di meja belajarnya. Tak ia sangka bulan depan ia sudah bisa wisuda. Maklum, karena ia sudah selesai sekripsi dan tinggal menunggu hari yang di tunggu-tunggu oleh tiap insan dalam perkuliahan begitu juga yang diharapkan bapak dan ibu Zahrana.

Malam ini seperti biasa setelah sekian lama ia tidak duduk bercengkrama bersama keluarganya, Hari ini ia bisa menikmatinya lagi. Lia adiknya juga ada karena pesantrennya sedang libur. Bapak dan ibunya juga ada di kursi kayu mereka.

“mbak Zahra mau wisuda ya?” Tanya Lia mencairkan suasana rumah yang dari dari sunyi karena mereka semua menikmati siaran televisi.

“iya dek…,kamu pengen cepet kuliah to?”

“ah ndak mau..kuliah susah ya buk” Lia pun menjawab polos sambil merapat ke pangkuan ibunya manja.

“ya gak lah dek..memangnya apa yang susah?” Tanya Zahra menyelidik.

“tuh bikin buku tebel banget, ngajar di sekolah, bolak balik ke kampus capek ah pusing “ ia tetap kukuh di pendiriannya.

Namun kali ini Zahra tidak menyalahkan adiknya. Namanya juga masih Mts jadi belum terlalu tahu dan mengerti tentang perkuliahan.

“dek Lia.. kalau mau pinter ya memang harus belajar sungguh-sungguh, orang pintar itu punya derajat yang tinggi di sisi Allah,mau gak?” Lia diam tak menjawab. Hanya mengernyitkan alis pertanda ia sepakat. Pembicaraan mereka masih berlanjut, sesekali celoteh Lia mampu mencairkan suasana yang diselimuti dinginnya angin malam. Canda, saling bertanya akrab bahkan tertawa bersama adalah moment yang sangat Zahra senangi. Yah..keluarga kecil itu adalah permata dan harta istimewa Zahrana.

Malam semakin larut,gemerlap bintang yang tadi masih tampak sekarang berangsur hilang tertutup mendung. Lia sudah tidur dengan bu Tuti. Tinggal Zahra dan pak Misdi yang ada di ruang tamu.

“bapak belum tidur?” tanya Zahra.

“nanti dulu ndok..besok bapak libur dagang soalnya”

“loh napa pak? Kan besok hari sabtu, bapak capek ya?”

“ah ndak..itu lo..pak Manto anaknya mau lamaran jadi bapak disuruh antar. Ndak enak kalau nolak pak Manto kan teman bapak”

“oh..nggeh…” balas Zahra lirih.

Ia melihat sinaran mata yang berbeda di mata pak misdi bapaknya setiap membicarakan tentang pernikahan. Ia tahu mungkin bapaknya ingin segera menikahkannya. Di usianya yang sudah cukup umur. “lha kamu kapan ndok pengen nyusul?” sindir pak Misdi dengan senyum di bibirnya. “ah..bapak nih..lha maunya bapak kapan?” “ya secepatnya tho ndok..kamu kan sudah mau wisuda masa ya belum kepikiran?” “kepikiran sih sudah pak,tapi masih ada yang harus Zahra selesaikan dulu biar tidak menggangu jadi bapak doakan saja Zahra bisa dapat yang terbaik dan urusannya lancar”

“amin..”

Dan itulah satu kalimat penutup pembicaraan mereka malam ini. Sunyi.

Di kampus IAIRJ hari ini terlihat sepi. Hanya tampak beberapa orang yang sedang mempersiapkan panggung dan tempat untuk wisuda senin lusa. Sabtu ini Zahra sengaja pergi ke kampus untuk melengkapi segala sesuatu yang ia butuhkan dan mencari tahu ada kabar apa saja yang ada di kampus saat itu. “lagi nunggu siapa Ra..?” suara Bass itu mengusik konsentrasi Zahra yang sedang memperhatikan kesibukan pembuat dekorasi.

”eh pak Anwar, gak nunggu siapa-siapa pak..”.

“wah udah mau wisuda berarti juga udah siap tho?” Tanya beliau sambil tersenyum menggoda.

“siap apa pak?, siap nganggur sih jangan pak…” balas Zahra santai. Karena beliau adalah dosen pembimbing Zahra.

“cari kerja dulu ya Ra..atau wirausaha jangan nikah dulu, pokoknya orangtua di bahagiakan dulu lho..” “iya pak, lagi pula saya juga belum ada pilihan. Memangnya mau menikah dengan siapa pak” pasrahnya.

“lho kamu sudah siap tho..bilang sama bapak Ra.. biar bapak Bantu pilih. Kalau menentukan itu hak kamu tapi kalau bantu milih gak salah tho.. kamu kan juga mahasiswa yang berprestasi, santun ya bapak kira harta tak masalah yang penting akhlaq kamu juga bagus”

“alhamdulillah” Zahra pun tertunduk malu mendengarnya. “ya kalau bapak berkenan silahkan, saya juga tidak keberatan tapi saya juga tidak tertalu ngebut lho pak..” candanya.

“hehe….bapak tahu,sukses ya Zahra”. Pak anwar pun berlalu.

“hai Ra…!!”

“Asti,eh sama Ismail ya… wah semakin akrab aja. Cocok neh”

“wah wah..kog sekarangyang jadi biro jodoh pindah ke kamu Ra.. virusku manjur juga.”

“oh ya..darimana kalian tadi?kog tiba-tiba ada disini.”

Ismail yang sedari tadi diam kini mulai angkat bicara. “dari akademik Ra,mengurus surat dan perlengkapan buat wisuda kita”

“oh iya Ra” lanjut Mail.

“aku ingin bertanya sama kamu”

Asti yang merasa akan mengganggu pembicaraan mereka segera beranjak untuk menjauh. “eh Ti mau kemana sih kamu…disini aja nggak apa kog yak an il?”

“oh iya santai saja lagi..”

“langsung saja Ra.. bagaimana pendapatmu selama ini tentang sikapku?, jujur saja aku suka sama kamu Ra.. aku mengagumimu bukan Karena parasmu tapi aku memang tidak tahu kenapa hati ini selalu bahagia bila disampingmu atau bisa melihatmu. Tapi aku tahu mungkin kamu tidak ada perasaan yang sama seperti aku Ra. Tenang saja Ra.. aku mengungkapkan ini bukan ingin meminta kamu untuk menyukaiku. Tapi aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku yang lama aku pendam. Salahkah aku Ra?”

Ada butiran bening yang tertampung di kedua bola matanya. Ia tidak menyangka Ismail sahabatnya akan mengungkapkan itu semua padanya. Asti merangkul Zahra dengan akrab. Sambil mengusap-usap pundaknya pertanda ia mempersilakan Zahra untuk berfikir dengan tenang.

“kamu tidak salah il, tapi mungkin aku yang belum bisa membalas perasaanmu itu sekarang. Sampai sekarang pun aku belum tahu siapa orang yang akan mengisi hatiku il. Tapi aku senang kalau dengan pengungkapan tadi bisa melegakan perasaanmu. Dan memperjelasku tentang dirimu selama ini.”

“tes..tes..” butiran bening itupun tak tertampung lagi dan mengalir di pipi Zahra. Ia sebenarnya ingin mewujudkan keinginan bapaknya untuk segera menikah setelah kuliah. Tapi ia tak bisa berbohong pada hatinya yang memang belum ada rasa apa-apa padanya. Hatinya bergejolak di siang itu.

“oke…jangan menyerah” ucap Mail sembari berdiri menatap langit.”yups, besok lusa kita wisuda teman-teman. Beban yang sesungguhnya ada di depan kita. Lebih berat malah..so, jangan terlena dengan hal-hal kecil oke!” gayanya sok tegar walaupun hatinya juga mengisyaratkat agak kecewa. Tapi ia tetap menghormati keputusan Zahrana.

“betul Isdmail…nah gitu donk! Eh..pulang yuk!” ajak Asti mengembalikan suasana.

“ayuk”sahut Mail

“oh iya Ra..pohon yang kemarin jangan dibuang ya..kan bisa jadi kenangan kalau nanti kamu udahied hehe”

Seperti biasa,hanya senyuman tulus yang dijadikan jawaban oleh Zahra. Dan mereka bertiga pun berlalu diiringi hembusan angin musim kemarau.

Hari ini adalah hari yang dinanti oleh mahasiswa-mahasiswi yang akan melaksanakan wisudanya. Inilah hari puncak studi mereka di IAIRJ Jati. Dengan di antar motor bapaknya Zahrana tampil anggun dan cantik dengan pakaian toga yang semakin menambah keayuannya. “parkir sini saja pak” ajak Zahrana. Dengan segera pak Misdi memarkir motornya di bawah pohon akasia biar tidak kena panas. Berbalut pakaian batik biru rapi walaupun bukan baru, pak Misdi melangkah bangga ke Hall tempat Zahrana diwisuda. Disana sudah banyak temannya yang datang. Wajah bahagia pun terpancar cerah di tiap mahasiswa yang akan melaksanakan wisuda. Ia pun segera mengambil tempat di bangku kosong tidak terlalu jauh dari depan. Namun sayang, ia hanya sendiri disitu. Teman yang lain banyak yang masih ada di belakang. Sedang ayahnya di luar asyik bercakap-cakap dengan temannya yang juga menghadiri wisuda putra-putrinya.

“permisi”

“deg,deg,deg” jantung zahrana berdetak kencang mendengar suara itu.

“iya”sahutnya lirih.

Entah mengapa wajahnya terasa berat memandang sosok yang duduk di sampingnya. “acara dimulai jam berapa mbak” dengan malu-malu ia tolehkan wajahnya pada lelaki itu. Ternyata benar jantung Zahra yang tak bisa melihatpun mampu merasakan kehadiran lelaki yang cukup lama tidak ia pikirkan lagi. Walau serasa mulutnya terkunci tak bisa di buka karena rasa senang yang bercampur malu, ia pun memberanikan diri untuk memandang dan menjawabnya. “jam 10 an mas..” MAS,,, ia baru sadar telah memanggilnya dengan kata “MAS”.

“makasih mbak..ngomong-ngomong kesini sama siapa?”

“sama bapak” jawabnya pendek.

“oohh…oiya seneng gak udah wisuda?” pertanyaan aneh bagi Zahra. Siapapun tahu kalau wisuda pasti senang hanya masalahnya mau jadi apa nanti setelah wisuda.

“alhamdulilah seneng lah mas, mas Tanya nya aneh deh..”

“oh iya.. nama mbak siapa, dari tadi belum kenalan.”

“zahrana Annisa”

“saya Muhammad habib alhusain”

“sepertinya kamu kuliah di IAIRJ ya?”

“kog tahu mbak?”

“aku sering liat kamu, tapi jangan su’udzon dulu, aku Cuma ngeliat aja kog,afwan”.

Keakraban mereka yang baru saja tetjalin harus segera di akhiri karena acara segera di mulai.. prosesi demi prosesi berlangsung secara khidmat dan apik. Penghargaan demi penghargaan juga telah diberikan. Dan selama hampir 3 jam akhirnya acara itupun selesai. Ini lah saat yang mengasyikkan. Foto bersama keluarga atau wali mahasiswa. Walaupun Zahrana merasa kurang tanpa ibu dan adik tapi ia akan mengajak mereka berfoto di rumah saja. Karena Lia sedang sakit makanya bu Tuti tidak bisa hadir.

“selamat ya Ra..” ucap pak anwar.

“saya yang harus berterimaksih pak.. bapak telah membimbing saya sampai selesai begini, maaf saya belum bisa membalasnya sekarang”

“halah..kamu ngomonh apa tho Zahrana.. keberhasilan kamu itu lho sudah membuat bapak senang dan bahagia. Itu juga sudah membalas namanya.”

“iya…sekali lagi terimakasih pak Anwar”

“tak kenalin sama ponakanku mau Ra?”

“siapa pak?”.

Tiba – tiba dari belakang pak Anwar muncul Habib yang baru saja tadi di kenalnya. “wah mau dikenalin malah sudah datang,sudah kenal tho Bib?”

“sudah tadi pak lek..” jawabnya.

“ya bagus tho..ya kan pak Misdi” ayah Zahra menyambut dengan tawa kecil.

“katanya Zahra mau nikah lho pak..” pak anwar menambah rona merah di pipi Zahra.

“ah ndak kog pak..pak anwar suka canda” elak Zahra.

“lho ndak papa lo pak anwar kalau punya calon mbok ya ditawarin Zahra, saya juga kepengen Zahra ada yang jagain pak..”

Tak satupun kata yang terucap dari bibir Zahra. Diam.

Tanpa disadari setelah berlalunya pak Misdi dan Zahrana, ada pembicaraan serius antara pak Anwar dan Habib,

“bagaimana Bib,sudah sedikit tahu tentang dia?”

“sudah pak lek,dia cantik dan sopak.bapak pasti senang.”

“lha iya,kamu kan sudah S1 juga,pekerjaan juga sudah siap kenapa masih masuk di IAIRJ semester satu lagi,mbol langsung nikah saja Bib..?”selidik pamannya,

“namanya cari ilmu boleh to pak lek kapan aja dan berapapun umurnya. Lagian dalam hal lain-lain saya juga masih merasa kurang. Malah disini saya dapat lebih pak lek,”

“dapat apa?Zahrana maksudmu..”gurau pak leknya.

Ia pun hanya membalas dengan senyum pertanda setuju. Dalam hati ia mengucap “insyaallah”

Desa Jati pukul 10.00 pagi.

“tok tok tok..!!”,“Assalamu’alaikum…”

“wa’alaikum salam” jawaban lirih Bu tuti,terdengar dari dalam rumah Zahrana. Kesibukan pagi di rumah itupun membuat semua penghuninya tak menyadari bahwa ada serombongan tamu yang telah ada di depan pintu rumah mereka.

“wah ada apa ini kog banyak orang di sini?” kejut bu Tuti .

“silakan masuk semua, maaf rumahnya sempit..,Lia!! Ambilkan tikar nak..” suruh bu Tuti pada Lia.

Tak lama Lia dan Zahra datang dengan tikar di tangannya dan membentangkan untuk para tamu yang berjumlah enam orang.

“Ra…piye kabarmu nak?” Tanya pak Anwar. Zahrana kaget dan bingung, bagaimana bisa beliau datang bersama HAbib dan empat orang yang belum ia kenal pikirnya.

“al..alhamdulilah pak Anwar,kalau boleh tahu ada apa ya pak?”

Tanyanya gugup. Ia bukan gugup karena beliau,tapi karena ada Habib disampingnya yang membuatnya kagum dengan pakaian taqwanya.

“ndak ada apa-apa Ra..bapakmu mana?”

“assalamu’alaikum..” seketika pak Misdi datang dari belakang dan menyalami para tamunya.

“wah pak Anwar..kog tumben pagi begini sudah datang..ada perlu apa ya pak?”

“begini pak Misdi dan bu Tuti yang saya hormati.. mungkin ini terlalu dadakan tapi saya memang perlu menyampaikannya.”

Lanjutnya.. “namun tidak pantas sepertinya,kalau saya yang mengatakan. Silakan pak Syaiful..” pak Anwar menyilakan pak Syaiful ayah Habib untuk berbicara pada keluarga pak Misdi.

Zahra dan Lia duduk terdiam bersama. Mereka tampak tidak mengerti apa-apa. Namun bu Tuti terlihat lebih santai bersama para tamu nya.

“ehm..maaf..sebelumnya perkenalkan nama saya Syaiful pak..,saya bapaknya Habib ini, ini istri saya dan Adiknya habib Jamal. “

Seketika itu zahrana baru tahu kalau yang datang adalah keluarga habib.

Kedatangan kami kemari bukannya tidak ada tujuan pak, yang pertama kami datang untuk bersilaturahmi pastinya, dan yang kedua kami mempunyai tujuan khusus yang baik yaitu ingin mewujudkan keinginan anak kami Habib, untuk menjalankan sunnatullah yaitu menikah.

“deg…” mata zahrana terbelalak…kaget, shock,bingung, senang, tak mengerti semuanya bergelayut di hatinya. Ia merasa akan ada rencana tuhan untuknya pagi ini. Bak petir di siang hari ia mencoba lebih menenangkan hatinya.

“walaupun kami belum pernah mengenal anak bapak,Zahrana annisa sebelumnya, tapi kami telah banyak diberi tahu oleh pak Anwar tentang anak bapak. Dan kami sangat percaya pada beliau. Dan hari ini perkenankan anak kami Habib untuk berbicara sebentar pada zahrana.

Gulungan ombak dalam samudra hati zahrana makin beriak,ia tak tahu harus bicara apa. Walaupun malu tapi ia terus mengucap syukur pada ilahi.

“Ra…”panggil Habib lembut pada Zahrana.

“sepertinya kamu sudah tahu apa maksud kedatanganku hari ini, ya, tiada lain aku hanya ingin menjadikanmu sebagai bidadari dalam rumahku. Maka dari itu aku ingin mengkhitbahmu. Maukah kamu menikah denganku dan menjadi istriku?”

Zahrana diam dan tertunduk untuk beberapa saat. Ia ingat bapak yang menginginkannya segera menikah. Ibunya yang semakin tua dan usianya yang tidak muda lagi. Kini datang di hadapannya lelaki yang ia idamkan. Agama,nasab,harta dan bagus rupanya insyaallah. Ia tahu ini adalah rencana yang disiapkan Allah untuknya. Maka dari itu ia mencoba membuka mulutnya yang mengatup rapat dan menjawabnya.

“insya allah iya..”

“alhamdulillah..” setiap orang yang hadir hari itu mengucap syukur pada Allah atas dipertemukannya dua insan  atas kehendak taqdirNYA.

Setelah itupun, suasana rumah zahrana ramai oleh pembicaraan-pembicaraan serius lainnya tentang akad nikah mereka.

“bagaimana kamu mamilihku?” Tanya Zahra pada habib saat itu.

“aku mempercayai pamanku Anwar, dan percaya pada kata hatiku” jawabnya singkat.

“tapi kamu belum mengenalku..”

“aku akan mengenalmu setelah akad nikah,cukuplah dari pamanku aku mengenalmu dan dari Asti sahabatmu.”

“apa??,bagaimana kamu kenal dia?”Zahrana heran.

“ceritanya panjang…yang pasti aku telah memilihmu untuk mendampingiku dalam menjalankan sunnahnya.”

Senyum bahagia nampak di wajah Habib dan Zahra.

Di tempat nan jauh berbeda. Ada dua orang yang turut merasakan kebahagiaan mereka juga.Dialah Ismail dan Asti Widya yang juga telah mengikat janji seperti mereka. Selamat menempuh hidup baru…

kalimat terakhir yang ada dalam undangan itu juga menutup kisah mereka yang sedang merajut indahnya makna cinta.

THE END


Comments on: "RENCANA INDAH" (2)

  1. setelah saya baca dari awal sampai akhir, paradigma yang muncul di otak saya adalah karakter ismail sepertinya terinspirasi oleh sesosok teman kamu di kampus yang bisa dibilang satu angkatan, satu manajemen di studio, satu jurusan, dan satu lagi. . pernah menjari rival waktu lomba speech contest ketika MAN doeloe. .
    Q udah kerasa nish, arahnya meniru pengalaman dia yang sering curcol, gege. .

    wah, kasihan sekali si Ismail. . ternyata tidak berakhir Happy Ending. .
    Am I too?

  2. aku salut membaca cerita yang tertoreh diatas, yg aku rasakan seperti ditulis dari dalam lubuk hati. semoga yang mengalami seperti kisah diatas akan mendapatkan apa yang diidamkan dan diridhoi oleh Allah SWT. aku benar2 salut dan membuat mata dan hatiku berkaca-kaca…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: