SPIRIT, FRESH, AND FUNNY STYLE

CINTA INI MEMBUNUHKU

Jadi teringat judul lagunya D’masiv ketika saya mulai menulis judul ini. (tidak bermaksud promo ♫♫♫ ) Eh.. tapi ada benarnya lho…, karena saya pernah mengalami hal seperti ini. Cinta yang membunuh… hii… ngeri pastinya. Untungnya kita belum punya Undang-Undang cinta hehe.. J J hmm… memang terkadang cinta datang begitu indah bahkan sangat indah. Semua bisa disulap jadi indah oleh cinta. Si malas mandi jadi rajin sampai make up nya sekalian, si penakut jadi pemberani, si minder jadi si PeDe semua karena cinta. Yang paling indah sih cinta yang berakhir di pelaminan ahahay….

Tapi dibalik itu ada juga cinta yang bikin nelangsa… cinta yang adanya ingin segera disingkirkan. Yah.. itu adalah selemah-lemahnya cinta yaitu cinta pada manusia. Ketika saya menyukai seseorang, saya akan menganggap orang yang saya sukai tadi adalah yang paling keren, ideal dan TOP. Tapi dibalik hati kecil ini, saya selalu bertanya-tanya “apa iya dia jodoh saya?” bukannya saya malas membina hubungan tapi hanya tak ingin memikirkan hal yang tak seharusnya dipikirkan saja. Karena nanti cinta itu hanya akan membunuh waktu produktif saya yang bisa saya gunakan menulis dan beraktifitas menjadi waktu yang terbuang sia-sia karena melamun, membunuh rasionalisme saya karena alas an cinta padanya, membunuh kebribadian asli saya menjadi pribadi budak cinta de el el. Haduwh haduwh… tak bisa di tulis lagi deh kejahatan cinta dalam diri saya ini… bahkan yang paling kejam adalah membunuh cinta saya pada Tuhan… “na’udzubillah jangan sampai ya Allah..”.

Memang ketika cinta pada manusia belum disertai keseriusan untuk menyempurnakan separoh agama akan menjadi cinta yang tarik ulur bak layangan. Kemungkinannya ada dua, kau akan terbang tinggi dengan indah di langit atau kau akan putus karena angina kencang yang menerpamu. Ketika sekarang kau begitu berharap bisa saja esok, nanti atau dalam hitungan menit harapanmu akan hancur. Dari sini saya sadar “Tuhan masih ingin saya jadi miliknya, tuhan masih cemburu pada saya jika saya mencintai orang (hambaNYA)”. Terimakasih tuhan…..🙂🙂

HOBY BARUKU

Ada perubahan besar pada diriku akhir-akhir ini, tak tahu apa alasannya tapi aku merasa mempunyai semangat membara untuk terus menorehkan tinta ini pada kertas ataupun computer. Yah semangat yang baru, bagus dan tak akan aku biarkan padam. Aku yang dulu malas sekali untuk menuangkan inspirasi dan ide dalam sebuah media entah kenapa sekarang jadi menggilainya. Mungkin salah satunya dari factor pergaulanku juga kali…

Dulu aku berkumpul dengan orang – orang penuh semangat berprestai namun menurutku belum tertoteh dalam sejarah karena waktu berlalu tanpa ada bukti keberadaan kita. Aku ingat perkataan rector UIN MALIKI MALANG , beliau pernah berkata saat ada stadium general di kampus hijauku begini katanya “ kalau kalian mau mempunyai bukti bahwa kalaian ada pada saat, tanggal, dan hari ini.. maka hasilkanlah sesuatu karya dari diri kalian. Karena sejarah akan mencatat keberadaan kalian”. Yah kurang lebih begitu.. dari situ aku masih lama merenung, bisa tidak ya aku menulis, seribu pertanyaan juga membombardirku “apa yang akan aku tulis?” de el el.

Tapi, pertanyaan itu terhapus dengan bertemunya aku dengan teman-teman pameran buku. Sebut saja mbak dini, dialah yang sangat banyak menginspirasiku untuk menulis. Awalnya aku kira dia hanya professional di bidang management kantor pameran, ternya aku sangat kagum bukan hanya pada dia saja, semua teman-teman pameran pevinta ilmu itu suka menulis. Wow….!! Aku kaget boy… baru pertama aku bertemu dengan komunitas pecinta ilmu dan suka menulis.

Awalnya aku ragu apa bisa aku mengikuti mereka yang sepertinya sudah ahli menulis bahkan bukan hanya di Facebook, tapi dalam media massa juga. Aku perhatikan tulisan-tulisan mereka, aku amati.. ternyata tidak harus menulis itu dengan sesuatu yang susah dipahami. Tapi aku lebih melihat ke kreatifan dan semangat menulis apa saja yang mereka alami. Itu keren boy….

Dalam kereta, mobil, sedang sedih, senang, be-te , bahagia…mereka bisa menulis. Dan bagiku itu keren… mbak dini dan teman-teman nya benar-benar menginspirasiku untuk mulai cinta pada menulis apapun itu. Saya ingat kata dosenku “ tulislah apa saja yang ada dalam otakmu, jangan pedulikan itu salah atau benar” karena aku tahu, ide tidak muncul dua kali..

Wah…benar sekalai kata Rasulullah kita, “siapa yang berteman dengan penjual minyak wangi, maka ia akan terkena bau wanginya…” kini aku semakin semangat berkarya!!!semangat dan trimakasih mbak dhini, teman-teman semua.

semua berawal dari cinta, cintaku pada membaca membuatku banyak berfikir untuk menulis. susah memang mengawalinya tapi kalau sudah senang , aku yakin pasti akan ketagihan :p trust me. Sekarang memang banyak orang yang bisa berbicara dengan baik dan lancer berteori tapi belum tentu dia bisa menulisnya, menuangkannya dalam kertas putih yang anggun. Semua butuh proses, proses dari tidak tahu menjadi tahu, dari buruk menjadi baik dan baik menjadi sangat baik. Tinggal kita selanjutnya yang mengasah ok!!

Dulu sekali aku mencampakkanmu

Dulu juga ku tak mau kenal kamu

Karena dulu bagiku kamu hanyalah seonggok kertas kumal dan kuyu

Penampilanmu tak menarik

Yah biasa saja….

Sekarang aku menyesal telah sempat membencimu

Aku tahu betapa bodohnya aku karena tak mau kenal kamu

Sekarang aku begitu menyukaimu lebih dari temanku

Sekarang kamu begitu berharga untukku

Tak kan kubiarkan seseorang melukaimu bahkan merusakmu

Kamu tempat gudang ilmu

Kamu bisa membuat si miskin menjadi kaya

Si bodoh menjadi pintar

Si pesimis menjadi optimis

Kau tak memakai mantra atau pun guna-guna

Hanya butuh minat membaca saja kau bisa menyulapnya

Esok, aku berjanji tak akan mencampakkanmu lagi

Esok, aku akan merawatnu dengan tulus

Bahkan kau selalu ada di onakku

Wahai pecinta ilmu……………….

Banyak orang yang hidup dengan penuh keluh kesah di zaman sekarang ini. Sebut saja aku, mungkin tiada hari tanpa berkeluh kesah. Mulai dari hal-hal sepele seh…contoh, “huh…sms kog ga’ di bales-bales…”, “aduh…gini aja gak selesai-selesai!!”, “gimana seh kamu, harusnya kan gini, bukan gitu…” de el el dah…tuh baru contoh yang kecil. Yang ge-de kaya gini neh…”tuhan….. aku tahu Engkau mendengarkan hambamu ini, tapi, kog masih kaya gini aja ya…” waduhh… tuhan aja sampai kena protes….”ups..” maaf.

Nah itu tadi contoh kecil dari problem manusia jaman sekarang. Maka dari itu, menurut undang-undang hati, kita perlu mencurahkan isi kepala dan perut (hehe) kepada orang lain yang sekiranya bisa membantu kita mendapat solusi alias “CURHAT”. Tapi gimana ya, terkadang ada dua tipe orang curhat neh…

1. curhat tok gak usah dikomentarin,,

2. curhat trus minta di ceramahin solusi

So,,,, pilih yang mana hayo???🙂

Terkadang pilihan kita seperti puzzle setan yang tak bisa dipecahkan sendiri. So, curhat seh boleh-boleh aja asal tempatnya bener ups orangnya maksudku,🙂🙂 …  tapi ada juga neh yang ekstrim di kantorku (jiahhh) ada fatwa “curhat is haram” loh kog bisa ya?? Tau neh… gara-gara nya aku punya temen lagi gak bener semua. Lagi dirundung banyak problem dan majalah-majalah (baca: masalah, gaul gitu loh) ada yang diem ntah itu dia sengsara sendiri atau udah dapet solusi tanpa bantuan orang lain, cukuplah tuhan dan aku aja yang tau..huhuhu keren!! Ada juga yang koar-koar gak jelas, ketemu siapa aja langsung berfatwa tanpa henti, ya kalau yang disuruh dengerin respek, lo kagak ya derita loe… pokoknya lagi “uakeh banget” yang lagi butuh saluran pembuangan limbah hati dan uneg-unegnya. Eit, tapi ada juga yang karena gengsi, tengsin to apalah namanya, separah mungkin tiap ada masalah tapi gak pernah cerita sama orang lain (saluuuutt) eh pas udah meledak semua temennya kena ceperannya dahh (kaluuuuuuuttt)..”kalo ceperan uang kagak papa seh”

Yah, namanya juga orang hidup selalu ada problem. Yang jelas, mau kita, aku, kamu curhat asal bisa mengurangi beban dan kepada orang yang dipercaya why not gitu loh…..so hidup curhat!! (lebay abiss mode on !!🙂 )

Saya teringat sewaktu saya sedang membaca komik Detektive Ryu, ya maklum saya memang pecinta cerita misteri. Disana saya menemukan sebuah cerita dimana Ryu CS sedang memecahkan kasus yang rumit dan hamper putus asa karena tidak ada jalan keluar.

Akhirnya dia melihat sebuah pohon besar dan naik ke atas dan saat itu juga matanya berbinar seakan dia punya jawaban atas kasusnya setelah naik ke atas pohon… (hmm…kalau penasaran ceritanya, baca komiknya ya..!!). disini saya juga baru sadar, ternyata ketika kita merasa sulit menemukan jalan keluar atas permasalahan kita, jangan putus asa dibuatnya. Kalau jalan yang biasa kita gunakn terasa buntu, coba lihat dari sisi lain, sudut pandang lain. Seperti kisah RYU tadi yang akhirnya menemukan jalan keluar setelah naik pohon.

Orang terbiasa melihat sesuatu dari yang biasa dilihat dan dipikirkan orang lain, termasuk saya sendiri. Terkadang kita lupa kalau setiap hal punya dua sisi dan sudut pandang yang berbeda.

Contohnya, banyak di antara kita yang melihat sebuah musibah hanya sebagai ujian dari tuhan, karena tuhan tak sayang sama kita (na’udzubillah). Tuhan sayang sama kita, makanya dia menguji kita, menguji hambanya yang pilihan…dan ternyata banyak hikmah di dalamnya yang bisa kita ambil.

Saya punya teman, beliau sangat saya hormati. Dan saya banyak belajar dari beliau. Beliau pernah bercerita tentang keikhlasan. Beliau tinggal di jogja, salah satu ceritanya adalah ketika jogja dilanda gempa besar tahun lalu, rumah beliau retak-retak. Beliau marah pada tuhan awalya, karena mobil beliau pun ikut lecet. Tapi beliau sadar. Tidak mungkin tuhan memberikan musibah tanpa ada hikmah dan peringatan di dalamnya. Lalu beliau melihat tetangga-tetangganya yang rumahnya hancur bahkan nyawanya pun hilang. Disitu beliau sadar makna keikhlasan. Karena bagi beliau ketika yang diberikan dan di titipkan pada kita itu halal, dan Allah sayang kita, maka suatu saat pasti diambilnya lagi.. jadi ikhlas lah.

Dari situ saya mulai merenung. Wah benar juga ternyata, karena tiap hal punya dua sudut pandang yaitu negative dan positif yang sama-sama harus kita pilih, lalu kenapa tidak kita pilih yang positif… toh sama-semua mempengaruhi kita. Bedanya, yang positif membuat kita optimis dan yang negative membuat kita pesimis..

Memang sulit untuk memulai berpandangan positif dan melihat dasi sisi positif dalam setiap keadaan tapi kita harus mencobanya. Katanya kan “orang bisa karena biasa”. Seperti banyak orang yang melihat Apel jatuh dari pohonnya itu biasa, tapi bagi ISSAC NEWTON hal itu luar biasa. Karenanya ia bisa melihat dari sudut pandang lain yang berbeda dari orang biasa pikirkan akhirnya, ia menemukan hukum gravitasi. Wow…luar biasa orang yang bisa melihat segala sesuatu dari sisi lain…^_^


ramenya persahabatanku

untuk yang pertama kali aku merasakan persahabatan yang begitu erat, di dunia luar tepatnya. dimana aku banyak berkumpul dan berbagi cerita dengan mereka.  untuk pertama kalinya di akhir bulan april sampai awal mei. aku bertemu sekelompok orang “aneh” menurutku,

tapi special sebenarnya.. (“gak pake’ sambel)”. mereka bisa menjadi kakak, adek, anak??? dan ehem…. susah lah yang satu ini di ungkapkan. yaps…pertemuan yang telah di atur oleh tuhan begitu indah. karena mereka aku banyak belajar tentang semuanya. konsep hidup, organisasi, tanggung jawab, dansiapa aku..hmm… aku bilang seh dapat plus-plus…. tapi setiap pertemuan pasti ada perpisahan jadi sekarang kita jauh di mata…tapi dekat di hati… banyak hal yang kita lewati bareng,, kaya lagunya “anang” sedih, senang hilang sudah….hehe…. yah mungkin suatu saat nanti kalau kita bertemu lagi akan ada hal baru yang bisa kita bagi, ingatlah kawan saat kita kehujanan bareng, dingin tapi tetap tertawa. saat kelaparan bareng,perih…tapi senyum selalu ada. saat harus tidur pagi…ngantuk, tapi semangat terus membara.. hmm….kalian memang teman-temanku yang super hebat…..

dan suatui saat nanti…aku pengen kita semua jadi orang yang super juga. amin……salam kangen selalu dariku….wish u luck!!

by:sieva az zahra

Paras ayu nan damai itu berubah menjadi sembab di sore ini. Di atas gundukan rerumputan hijau di tepi sungai “Jati” yang biasa di pakai orang untuk memancing. Yah… memang air sungai ini masih terlalu jernih untuk berada di desa kecil di daerah Magetan. Namun keadaan itu sangat berbeda dengan keadaan yang sedang di alami Zahrana. Di tepi sungai ini dia mengeluarkan keluh kesah dan beban yang ada dalam dirinya. “ tuhan…apa yang harus aku perbuat?” ungkapnya lesu. Walaupun tak satu orangpun mendengarnya di sore itu. Tapi ia yakin air sungai, burung gereja yang asyik dengan kicauannya, dan bunga-bunga yang ada disana mampu menghanyutkan beban yang ia ungkapkan. Dia menikmati suasana sore itu seperti yang telah ia lakukan sebelumnya. Karena setiap ada sesuatu yang membuatnya resah, ia selalu mengungkapkannya di tepi sungai Jati.

Zahrana, remaja yang menginjak usia 22 tahun, polos, dan terbiasa mengalami berbagai masalah dalam kehidupannya yang kompleks. Namun senja sore yang semakin membenamkan dirinya kearah barat itu membuat zahrana harus segera pulang ke rumah. Rumah sederhana yang ada di desa Jati Jawa Timur. Rumah yang sudah ada sejak ia lahir yang kini ditempatinya bersama orang tua  dan satu adiknya yang masih duduk di bangku mts kelas satu.

“Assalamualaikum” ucap Zahrana sambil mencium tangan ibunya yang mulai renta. Beliau memang terbiasa menunggui zahrana pulang dari aktifitasnya. “ dari mana ndok?” tanyanya. “dari ngajar TPA buk” jawabnya sambil duduk disamping ibunya. Tak lama ia pun beranjak dari tempat duduknya karena mau pergi ke masjid. “oh ya..Lia sudah balik ke pondok buk?” “sudah ndok tadi di antar bapakmu sambil ke pasar, lha apa belum pamit sama kamu tho?” “sudah kog buk, tadi malam. Ya sudah kalau begitu Zahra ke masjid dulu ya”.

Adiknya Lia, memang mondok di pesantren salaf tak jauh dari desanya, tapi Zahra menyuruhnya untuk tinggal di dalam pesantren biar ilmu yang di dapatnya juga maksimal. Maklum, dulu Zahrana juga pernah mondok disana. Jadi sedikit banyak ia telah makan garam pengalaman tinggal di pesantren dan yakin kalau adiknya mampu. Dan sekarang dia sudah menjadi salah satu mahasiswi IAIRJ (Institut Agama Islam Roudotul Janah) semester 6 jurusan tarbiyah.

Setelah sholat isya, Zahrana mempunyai kebiasaan berkumpul bersama orang tuanya. Dan malam itu, ia telah mendapati bapak dan ibunya tengah duduk di ruang tamu yang berisi 4 buah kursi dari rotan dan 1 meja ukir kecil dari kayu jati buatan bapaknya. “duduk sini dulu ndok” pak Misdi ayahnya memulai pembicaraan. “nggeh pak..” sahutnya. Malam ini, Zahra merasakan suasanya yang agak berbeda dari biasanya. Ia pun memberanikan diri bertanya pada bapak yang di hormatinya itu. “ada apa nggeh pak, kog sepertinya ada yang mau dibicarakan sama zahra?” Zahra memandangi wajah bapak dan ibunya dengan lembut. Zahra sadar, betapa orangtuanya sekarang sudah mulai renta dimakan usia.

“ndak ada apa-apa ndok,bapak sama ibu cuma pengen ngobrol saja sama kamu”.

“bagaimana kuliah kamu ndok, kapan selesainya? Sudah tiga tahun tho kamu kuliah?”

“insya allah pak,buk…ini Zahra sedang kkn dan ppl jadi doanya saja biar semua lancar dan Zahra bisa cepet selesai”.

“amin”

ucap keluarga itu serempak. “ibuk selalu berdoa buat kamu cah ayu, nanti kan kalau kamu sudah selesai bisa cepet nikah juga tho?” celetuk ibunya. “wah ibuk ni bisa aja. Nikah sih gampang, calonnya itu lo buk yang susah” “lha kan temanmu di kampus banyak ndok, masa gak ada yang mau?” pak Misdi menimpali. “wah,wah kog jadi ngomongin nikah, mendingan bapak sama ibuk cepat istirahat saja, ini sudah malam, besok kan semua harus bangun pagi” ia pun mengalihkan pembicaraan.

Jam dinding di kamar Zahra menunjukkan pukul 03.00 pagi. “astagfirullah” ucapnya. Seperti biasanya Zahra pergi ke kamar mandi dan berwudhu untuk melaksanakan sholat malam. Ia ingin menumpahkan keluh kesahnya kepada sang penggenggam jiwa tiap manusia.Allahu rabbi.

Bibir mungil itu terus mengagungkan nama sang khalik lewat alunan doanya yang tiada henti. Dia berdoa agar ia bisa sabar dan menemukan jalan dari tiap permasalahan yang ia hadapi. Tak lupa ia juga berdoa supaya tugas di kuliahnya juga bisa ia kerjakan dengan baik dan lancar, berdoa untuk ayah ibunya yang mulai renta, serta adiknya yang ada di pondok dan terakhir adalah jodoh untuknya. Ia ingin jodoh untuknya nanti adalah surprise baginya. Ia ingin berpacaran setelah menikah seperti pesan ustadzahnya dulu di pondok. “alhamdulillahi robbil alamin” kata terakhir yang terucap dari bibirnya sebagai penutup dari doanya. “masih jam 04.00 pagi” katanya. Dia pun mengambil beberapa buku di rak meja kecilnya yang berada di samping tempat tidur. Tidak ada tugas hari itu, namun ia ingin membaca-baca saja. “rrrrrr” ‘rrrrrrrrrr’ getar handphonenya bergetar. Dia memang selalu menggetarkan HP nya ketika tidur. “jangan lupa nanti ada rapat KKN di tempat biasa” tulisan dalam layar HP nya.

Semngat baru di pagi yang baru menemaninya untuk beraktifitas pagi. Yah…membantu ibunya tercinta di dapur dan bersih-bersih rumahnya.

Di bawah pohon akasia kampus yang rindang. Tempat inilah yang biasa dipakai anak-anak berkumpul. Udara yang masih sejuk dan kicauan buurng turut meramaikan suasana saat itu. Sepertinya burung-burung itu mengerti tentang rapat yang di adakan di bawah pohon itu.ramai.

Pembicaraan demi penbicaraan dilalui hingga sampai suatu mufakat.”ok teman-teman jadi semua sudah jelas kan tempat dan barang apa yang perlu dibawa??” Tanya sang ketua kelompok.” “sipp……!!!” suara serempak dari mereka. Zahrana yang menjadi bendahara pun sepertinya cukup mengerti dengan isyarat anggukannya dan berniat segera pergi karena ia mau mengembalikan buku. “eh Zahra mau kemana?” asti mengiringi lanhkahnya ke perpustakaan.

“oh kamu tho Ti,ni mau ke perpus aja. Mau ikut kamu?” “hehe…gak ah lagi males kesana,lantai tiga capekk….” “ah dasar kamunya aja yang males” “eh Rana,tadi si Mail lihatin kamu terus lo pas rapat!! Selidik asti penasaran. “trus napa?”

“yah…kasih tau aja. Mungkin si Mail naksir kamu zahra?” asti masih terus mengintrogasinya seperti polisi pada terpidana.

“huss ngawur!! kamu aja lah yang naksir, aku belum mikir kesana,kamu kan temen kecil dia. Aku masih males Ti.. neh perlengkapan dan persiapan KKN aja belum lengkap hayoo…”.sebenarnya Zahra tau kalau asti adalah teman SD dan Mts nya Ismail. Jadi Zahrana sedikit banyak juga tahu kalau Asti agak suka dengan Mail. “ya udah kalau gitu met baca zahrana cantik” asti pun nyelonong pergi dari sampingnya. Tak lupa cubitan usil Asti sahabatnya sempat mampir ke lengan zahrana.

“ya allah, astagfirullah” spontan Zahrana kaget dan rona wajahnya memerah. Disana, di pojok ruangan penitipan tas dia melihat seseorang yang sempat mampir di pikiran dan selalu meminta zahrana untuk mencari tau siapa dia. Senang, malu dan berdebar itulah yang dirasa Zahrana setiap melihat sosok itu. Walaupun misterius bagi Zahrana, tapi ia tidak terlalu memikirkannya. Ia selalu yakin Allah pasti akan mempertemukannya ketika nanti ia memang ditakdirkan mengenalnya. Tegap tapi pasti langkah Zahrana menuju lantai tiga perpustakaan. Sepi karena memang sudah hampir tutup. Setelah mengembalikan buku iapun duduk sejenak untuk membaca. Tiba-tiba seseorang duduk di kursi sebelahnya. “deg” zahrana kaget “dia lagi” dalam hatinya resah. “oh tuhan kenapa hamba selalu malu dan bingung ketika dekat dengannya?” beberapa menit telah berlalu, lima, sepuluh, bahkan tiga puluh menit berlalu tanpa ada pembicaraan sepatah katapun diantara mereka. Sibuk membaca lembaran demi lembaran buku masing-masing tanpa tahu ada seseorang yang hatinya gelisah. Zahrana.

Selain memang mereka belum kenal zahrana pun malu untuk bertanya atau mengajak berbicara. Karena sosok itu benar-benar misterius baginya. “tet…tet” bell pun berbunyi. Semua meninggalkan perpustakaan itu tanpa terkecuali.

Senyum kecil itu mengiringi langkah Zahra kembali ke tempat biasa ia mencurahkan ceritanya. Yah.. sungai Jati nan alami.

Hari itu sungai Jati tidak terlalu ramai, masih sepi seperti biasanya. Ia duduk dibawah pohon mangga yang lebat daunnya. Oksigen murni pun bisa ia dapat langsung dari pohon-pohon disana. Sejenak ia mencoba mengingat -ingat kejadian  tadi siang di kampus. Ia mencoba menggali memori tentang sosok pemuda itu. Zahrana ingat sekali ketika pertama melihat pemuda itu. Yah… di suatu acara tanpa sengaja ia melihatnya duduk dengan buku di tangannya. Entah kenapa dari banyak peserta hanya sosok dialah yang dilihatnya. Sopan, berwibawa dan religius. Itulah yang di idamkan Zahrana. Tapi sampai sekarang Zahrana masih dalam tahap suka secara fisik, kepribadian? Entahlah. Nama saja belum ia ketahui, semester, jurusan, baginya masih sangat jauh untuk bisa mengetahui diri pemuda itu. Yang terpenting, apakah pemuda itu menyadari adanya seseorang yang selalu malu ketika bertemu dengannya atau tidak. Biarlah Allah sang penggenggam jiwa yang menjawabnya.

Hari yang ditunggu-tunggu Zahrana pun tiba, yah.. KKN bersama teman-teman untuk memenuhi tugas perkuliahannya. Dia berharap semua akan lancar-lancar saja. Sebuah bus besar milik kampus pun telah ada di tepi jalan dan siap mengantar para mahasiswa.

“Zahra….!!” Suara khas itu memanggilnya. Ismail, dia memang mempunyai suara khas karena mahir Qira’ah di kampus. “iya Mail..ada apa?”. Mail menghampirinya dengan sebuah tas besar di punggungnya. “emm…kamu tadi di antar siapa?” tanyanya. “aku di antar bapak tadi, napa il? memangnya Kamu mau antar aku?” goda zahrana. “wah..kalau kamu ngomong dari kemarin, aku mau banget Ra.. hehe..” “halah ngawur kamu, mau kita di gosipin sekampung?” “gak papa biar kaya artis ya..walaupun bentar” kelakarnya. Mail memang tipe cowok yang suka humor sama seperti Zahrana. Dan tanpa terasa,asyiknya obrolan mereka berdua membuat mereka tidak sadar kalau kursi di bus mereka sudah penuh. Dan menyisakan dua kursi di belakang pas buat mereka. “Zahra, mail..!! cepet masuk!” teriak Asti. “sip” sahut mail. “wah, Allah sepertinya mengabulkan doaku Ra..” Zahrana tak menjawab. Namun segurat senyum hadir di bibirnya.aneh.

“ckiitt…..” bunyi rem bus tua mereka memekik yang memang tidak asing lagi. Ternyata setelah satu jam sampai juga mereka ditempat KKN. “ayo semua turun…!!” ucap Malik sang ketua. Tanpa diberi aba-aba lagi mereka pun turun dengan seksama. Pastinya ada satu orang yang bahagia sekali saat berada di dalam bus. Yah ismail alfauzi.

Senang, sedih canda, tawa hadir di kampung Sukosari tempat mereka beraktifitas. Suatu hari, saat Zahrana pergi untuk mengajar ke MI terdekat tiba-tiba dia digoda oleh anak angkringan daerah sana. Bak pahlawan kesiangan Ismail pun datang untuk menemaninya supaya dia tidak diganggu lagi. Entah apa yang ada di fikiran Zahrana, tapi yang jelas ia senang dengan perlakuan Mail yang selalu baik dan sopan kepadanya selama ini. Hanya saja untuk masalah hati atau perasaan Zahrana lebih memilih untuk tidak memfikirkannya dulu. Read the rest of this entry »

Tag Cloud